workshop Nasional

workshop Nasional
ASDEKSI

Rabu, 29 April 2009

PENCARI CINTA

Banyak orang berkata dan berkisah tentang cinta, ada yang mengatakan cinta berawal dari pandangan mata dan menumbuhkan rasa yang begitu indah di dalam hati. Adapula yang mengatakan bahwa cinta adalah sebuah TERM yang berarti gejolak jiwa dan perasaan yang menggelora tatkala disaput oleh kerinduan, serta hasrat kuat untuk bersua dengan yang dicintai.Bahkan ada juga yang bertutur bahwa cinta adalah kecenderungan instinktif terhadao suatu objek, sebab objek itu indah dan mempesona dimata sang pencintanya.Jika cinta telah bersemi dan tertanam kokoh direlung kalbu, maka kerinduan, kasih sayang, kebahagiaan kerap menjadi senyuman indah yang senantiasa menghiasi wajah. Dikatakan juga bahwa cinta adalah sepotong kayu yang menyangga gentong yang diletakkan diatasnya, kemudian cinta itu disebut tiang karena cinta menanggung kenangan dan penderitaan.
Namun banyak pesona cinta yang ditampilkan oleh para pelaku cinta tak lain merupakan cinta yang penuh dengan imajinasi, yang akan hilang lenyap manakala objek yang dicintainya berubah tak lagi menebarkan aroma wewangian cinta, tak lagi bagus kondisinya dan tak lagi sesuai dengan imajinasi sang pecinta, cinta mereka hanya temporer dan tak akan dinikmati sepanjang masa.
Karena itu, esensi cinta sejati yang mampu memberikan pesona keabadian adalah cinta kepada ALLAH, tuhan yang penuh dengan cinta.
Cinta kepada ALLAH adalah cinta kepada sang kekasih yang ditandai dengan 3 ciri utama yaitu :
1. memiliki kepatuhan kepada ALLAH selaku kekasih sejati yang disertai dengan membenci segala bentuk sikap yang melawan kepada ALLAH.
2. Mengerahkan Totalitas diri kepada ALLAH
3. Mengosongkan hati dari segala hal kecuali ALLAH.
memang tidak mudah, sebab cinta kepada ALLAH, tuhan pencipta alam semesta memerlukan proses yang sangat panjang dan berliku-liku, melalui banyak tahapan ujian, olah jiwa, bahkan kadang harus berhadapan dengan penghalang-penghalang cinta kepada ALLAH seperti hawa nafsu dan godaan setan durjana.
Para sufi dan para alim ulama selalum berusaha cinta kepada ALLAH, kenapa kita tidak bisa seperti mereka, sebab kita juga wajib cinta kepada ALLAH, tuhan semesta alam, karena kita mahluk ciptaan ALLAH.
Semoga ringkasan dari buku cinta ini bisa mengilhami kita untuk mencari cinta sejati yaitu cinta kepada ALLAH.
Amiin Ya Rabbal Alamin

Wanita Pujaan

Fathimah az Zahra adalah putri Nabi Muhammad saw., wanita yang paling
dikasihi oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Rasulullah saw. bersabda,
“Fathimah adalah bagian dari diriku, siapa yang membuatnya marah,
berarti membuatku marah,” dan, “Niscaya Allah marah jika engkau
(Fathimah) marah, dan ridha atas keridhaanmu.”Fathimah,
selain berparas cantik (sehingga dijuluki ‘bidadari berwujud manusia’),
juga terkenal akan kecemerlangan pikiran dan kefasihannya. ia juga
dijuluki sebagai Ummu Abiha (ibu dari ayahnya), karena perannya yang
begitu agung dalam kehidupan ayahanda tercintanya, Nabi Muhammad saw.
Singkatnya, Fathimah az Zahra adalah sosok wanita sempurna, baik
sebagai seorang anak, istri, ibu, maupun sebagai dirinya sendiri. Ia
adalah teladan bagi kaum wanita sepanjang masa.Mengapa Fathimah
bisa begitu dicintai Allah dan Rasul-Nya? Bagaimana ia meraih kedudukan
agungnya itu? karenanya, wahai wanita sholihah yang ada di bumi persada, jadikan Fatimah Azzahra binti Muhammad sauritauladanmu...agar engkau menjadi wanita mulia

Senin, 20 April 2009

Anjing dan Kuda

Seekor anjing tampak menatapi tingkah seekor kuda yang berlari-lari tak jauh dari hadapannya. Sang kuda begitu ceria. Sesekali, kuda menggoyangkan kepalanya seperti sedang berdendang riang. Anjing pun mengubah wajah cemberutnya dengan bersuara ke arah kuda.

“Kamu begitu bahagia, kuda?” tanya sang anjing menampakkan wajah penasaran. Padahal, di masa kering seperti ini, sebagian besar penghuni padang rumput terjebak kehidupan yang begitu sulit.

“Ya, aku bahagia!” ucap kuda sambil terus berlari kecil seraya tetap mengungkapkan keceriaannya.

“Kamu tidak merasa susah di masa kering seperti ini?” tanya anjing dengan wajah masih muram.

“Tidak!” jawab kuda singkat. Gerakan larinya makin melambat. Dan, sang kuda pun menghentikan langkahnya di depan sang anjing.

“Apa kamu sudah kaya, temanku?” tanya si anjing serius. Yang ditanya tidak memberikan reaksi istimewa. Kuda cuma menjawab pelan, “Tidak!”

“Mungkin kamu sudah punya rumah baru seperti kura-kura, keong, atau yang lainnya?” tanya anjing tetap menunjukkan rasa penasaran. Kuda hanya menggeleng.

“Mungkin kamu sudah bisa menghasilkan mutiara seperti para kerang di laut?” tanya sang anjing lagi. Lagi-lagi, kuda menggeleng. “Lalu? Kenapa kamu begitu bahagia?” sergah anjing lebih serius.

“Entahlah,” jawab kuda sambil tetap menunjukkan wajah cerianya. “Aku bahagia bukan karena punya apa-apa. Aku bahagia karena bisa memberi apa yang kupunya: tenaga, kecerdasan, bahkan keceriaan,” jelas kuda begitu panjang.

“Itukah yang membuatmu bahagia dibanding aku?” tanya anjing mulai menemukan jawaban menarik.

“Aku merasa bahagia dan kaya karena selalu berpikir apa yang bisa kuberikan. Dan bukan, apa yang bisa kudapatkan,” tambah si kuda yang mulai beranjak untuk kembali berlari. **

Manis pahit kehidupan kadang bergantung pada bagaimana kita memandang. Dari situlah sikap diri akan menemukan cermin. Kalau hidup dipandang dengan wajah muram, maka cermin akan memantulkan sikap susah, suram, dan tidak mengenakkan.

Cobalah letakkan mata hati kita di tempat yang nyaman untuk memandang hidup ini secara positif. Maka, kita akan menemukan energi baru tentang bagaimana mengarungi hidup.

Dari situlah, sikap yang muncul persis seperti diungkapkan sang kuda, “Aku merasa bahagia karena selalu berpikir apa yang bisa kuberikan. Bukan, apa yang bisa kudapatkan.”

فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى ﴿٥﴾ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ﴿٦﴾ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى ﴿٧﴾ وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى ﴿٨﴾ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى ﴿٩﴾ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى ﴿١٠﴾

Janji Untuk Diriku

Menjadi kuat sehingga tidak ada yang bisa mengganggu ketenangan pikiran anda.
Bicara tentang kesehatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan kepada setiap orang yang anda temui.
Membuat semua teman anda merasa ada sesuatu dalam diri mereka.
Melihat sisi baik segala sesuatu dan mewujudkan optimisme anda.
Berpikir hanya yang terbaik, bekerja hanya untuk yang terbaik, dan mengharapkan hanya yang terbaik.
Bersikap sama bersemangatnya tentang kesuksesan orang lain seperti tentang kesuksesan anda sendiri.
Melupakan kesalahan masa lalu dan terus maju menuju pencapaian yang lebih besar di masa depan.
Berwajah ceria setiap saat dan tersenyum kepada setiap mahluk hidup yang anda temui.
Memberikan begitu banyak waktu untuk perbaikan diri sendiri sehingga anda tak punya waktu untuk mengkritik orang lain.
Menjadi terlalu bijaksana untuk khawatir, terlalu mulia untuk marah, terlalu kuat untuk takut, dan terlalu bahagia untuk membiarkan ada masalah.
Berpikir baik tentang diri sendiri dan menyatakan fakta ini kepada dunia, tidak dalam perkataan sombong tapi dalam tindakan mulia.
Hidup dengan keyakinan bahwa seluruh dunia memihak anda selama anda selalu memberikan upaya terbaik anda.

Sabtu, 18 April 2009

Cinta Sahabat

Pada suatu hari Umar Bin Khattab pergi mengadukan perihal Ali Bin Abi Thalib kepada Rasulullah SAW. Katanya "Ya Rasulullah, Ali Bin Abi Thalib tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku..."
Mendengar pengaduan itu Rasulullah SAW segera memanggil Ali Ra untuk datang. Lalu Rasulullah bertanya kepadanya, "Ya Ali, benarkah engkau tidak pernah memberi salam terlebih dahulu kepada Umar?"
Ali Bin Abi Thalib menjawab, "Ya Rasulullah, hal itu kulakukan karena ucapan Rasulullah juga yang mengatakan "Siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan baginya istana di surga." Karena itulah, ya Rasulullah, aku selalu ingin Umar mendahuluiku mengucapkan salam supaya ia bisa mendapat istana di surga".

Bila "Aku"Jatuh Cinta

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amin !

Jumat, 10 April 2009

SEKULARISME di Turki dan Indonesia

Keputusan menjadi negara sekuler diambil bangsa Turki setelah kerajaan Ottoman mengalami kemunduran dan
kekalahan di berbagai belahan bumi. Kekalahan itu dialamatkan kesalahannya pada keberadaan Turki sebagai kerajaan
Islam.

Dan, antitesisnya ialah perubahan mendasar yang harus dilakukan dari kerajaan menjadi negara bangsa berbentuk
republik, dari negara Islam menjadi negara sekuler.

Pada saat itu tentu tidak semua orang atau tokoh Turki setuju dengan gagasan seperti itu. Sejumlah ulama di bawah
pimpinan Bediuzzaman Said Nursi amat menentang, tetapi kekuatannya tidak besar.

Maka, secara resmi sekulerisme menjadi ideologi negara. Semua simbol Islam dilarang, penggunaan bahasa dan
aksara Arab diganti huruf Latin. Dakwah diawasi, tahun 1925 Attaturk melarang tarekat dan pergi haji. Pendidikan agama
amat dibatasi. Pengadilan agama ditutup, hukum pernikahan Islam diganti dengan hukum positif Swedia.

Said Nursi dengan susah payah berjuang untuk mempertahankan kegiatan dakwah walaupun amat sulit. Salah seorang
muridnya, Fethullah Gulen, pada tahun 1971 mendirikan lembaga pendidikan an Nur yang terus berkembang dengan
pesat dan merambah ke luar negeri.

Secara perlahan kalangan Islam yang antisekularisme mengalami peningkatan dalam jumlah dan mutu. Gulen tidak
hanya seorang ulama, tetapi juga pemikir dan tokoh pergerakan. Lembaganya mempunyai ratusan sekolah dan sejumlah
universitas, rumah sakit, radio, stasiun TV, bank, surat kabar. Aset lembaga Gulen (1999) diperkirakan sekitar 25 miliar
dollar AS. Partai yang menentang sekularisme makin besar jumlah pendukungnya. Tahun 1995 Partai Islam Refah
menang dan Erbakan menjadi PM. Jargon politik Partai Refah menonjolkan etika, tradisi, keadilan sosial, dan penolakan
keras terhadap westernisasi.

Refah memperjuangkan Islam model khas Turki sesuai dengan aspirasi massa Islam. Refah bukan partai Islam militan
atau fundamentalis, tetapi partai moderat yang menjunjung nilai demokrasi dan pluralisme. Namun, tahun 1997
Pemerintah Turki melalui tangan militer melarang partai itu ketika dianggap Partai Refah terlalu memperjuangkan Islam.

Kini Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), partai yang memerintah saat ini, mencalonkan Abdullah Gul sebagai
satu-satunya calon presiden. Dia didukung PM Recep Tayyib Erdogan. Kalangan sekuler takut, kalau terpilih, Gul akan
mengutak-atik sekularisme yang sudah mendarah daging bagi sebagian besar rakyat Turki. Karena itu, panglima tertinggi
militer Turki menyampaikan pernyataan, jika sekularisme terancam, dia akan mengambil langkah-langkah yang sangat
tegas.

Karena Parlemen tidak mencapai jumlah suara minimal untuk bisa memilih presiden, UUD diamandemen dan
menyetujui pemilihan presiden secara langsung.

Joseph S Nye Jr, penulis buku Soft Power dalam tulisannya di The Jakarta Post 11 Mei 2007, merasa terkejut terhadap
reaksi kalangan sekuler di Turki karena, menurut dia, PM Erdogan adalah seorang yang moderat dan menunjukkan
prestasi yang mengagumkan dalam masalah ekonomi, legislasi HAM, dan perbaikan dalam perlakuan terhadap kaum
minoritas Kurdi.

ada pertemuan ada perpisahan

Tidak semua perpisahan menunjukan terpisahnya hati dan tdk setiap pertemuan mencerminkan kencintaan tapi ukuwah diukur dengan kedekatan hati,saling mencintai dan mengasihi dalam ikatan tali agama Allah. Bertemu dan bertemu dan berpisahnya karena Allah Allah. Ya Allah sampaikan lah salam ku pada ADIK - ADIKU dengan cara Mu yang paling indah,bahwa aku mencintai mereka karena Mu.

PENDIDIKAN dan PENGAJARAN

1. saya setuju pengertian pendidikan yang ke 2"pendidikan adalah pengaruh bimbingan dan arahan dari orang dewasa kepada orang lain,untuk menuju kearah kedewasaan,kemandirian serta kematangan mentalnya. karena pendidikansebagai proses pembentukan pribadi bayi yang baru lahir kepribadiaanya belum terbentuk belum mempunyai warna dan corak kepribadian yang tertentu,ia baru merupakan induvidu belum suatu pribadi,untuk menjadi suatu pribadi perlu mendapatkan bimbingan,latihan,pengalaman melalui bergaul dengan lingkungan,kususnya dalam lingkungan pendidikan .dalam proses ini peran orang dewasa sangat berpengaruh terhadap kepribadiaan bayi.
Untuk orang dewasa tetap dituntut adanya pengembangan diri agar kualitas kepribadiaanya meningkat serempak dengan meningkatnya tantanga hidup yang selalu berubah.

2. Pengajaran dan pendidikan dapat dibedakan,tetapitidak dapat dipisakan satu sama lain.masing-masing saling mengisi.
perbedaanya adalah:
PENDIDIKAN(EDUCATION)
• lebih menekankan pada pembentukan manusianya(penanaman sikap dan nilai-nilai).
• waktu relatif panjang panjang(seumur hidup)
• Metode lebih bersifat psikologis dan pendekatan manusiawi.
PENGAJARAN(INSTRUKSION)
• Lebih menengkankan pada penguasaan wawasan dan pengetauan tentang bidang/program tertentu misalnya kedokteran,pertanian,skiil.dan lain-lain.
• waktu relatif pendek.
• Metode lebih bersifat rasional teknis praktis.
CONTOH:
Pengajaran, anak diajar menulis yang baik.guru mengajarkan tatacara sholat yang benar.
pendidikan,anak dikembangkan kegemarannya untuk nulis yang baik,orang tua membiasakan anaknya untuk sholat tepat waktu.

Jadi Pendidikan itu bersifat normatif,yaitu mengandung unsur norma yang memaksa,tetapi tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan perseta didik,dapat diterima olrh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik.
3. menurut saya posisi eskalasi mental seseorang pada proses pendidikanya,karena pendidikan membentukmental dan kepribadian seseorang,pendidikan tu berlangsung sepanjang hidup manusia.pendidikan itu tidak identik dengan dengan persekolahan ,kita bisa belajar dari pengalaman kita sehari-hari.dengan pengalaman itu bisa menambah kedewasaan kita, pendidikan tu berguna untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih kekal lagi yaitu akhirat.

Selasa, 07 April 2009

membuat OUTLINE

Outline, atau biasa disebut kerangka karangan, adalah inti dari sebuah tulisan. Pendek ataupun panjang, fiksi ataupun non-fiksi, cerita lepas ataupun buku, selalu mengutamakan outline dalam prosesnya. Mengapa? Karena dengan outline, kita dapat mengetahui apa yang kita tulis, dan membuat tulisan kita itu lengkap.

Mind mapping – yang telah dibahas pada posting sebelumnya, sangat mempengaruhi outline yang akan dibuat. Dengan mind mapping, kita dapat mengetahui apa saja yang berhubungan dengan tulisan kita. Dan, mind mapping masih dapat – dan terus dikembangkan. Karena dengan pengembangan, kita dapat menentukan outline yang ideal untuk tulisan kita.

Cara terbaik untuk membuat outline, adalah dengan sistematika berikut ini,
Judul Tulisan
I. Bab I
a. Keterangan Bab I
b. Keterangan Bab I
II. Bab II
a. Keterangan Bab II
b. Keterangan Bab II
III. Bab III
a. Keterangan Bab III
b. Keterangan Bab III
IV. Bab IV
a. Keterangan Bab IV
b. Keterangan Bab IV
V. Bab V, dst

Bagi orang-orang yang pernah menyusun karangan ilmiah seperti skripsi, tugas akhir, laporan penelitian, dan sebagainya, pastinya sudah mengetahui sistematika seperti itu. Akan tetapi, bagi yang belum pernah menyusun, sistematika tersebut bisa dijadikan acuan.

Untuk jenis tulisan apa sistematika tersebut digunakan? Jawabannya adalah, untuk tulisan jenis apa saja. Dalam artian, fiksi, maupun non-fiksi bisa menggunakan sistematika outline tersebut. Harap diingat, jenis tulisan yang berbeda, bukan berarti penyusunan outline juga berbeda. Susunan akan sama, mind mapping untuk menyusun outline pun sama, yang berbeda hanyalah isi dari outline, dan isi dari tulisan tersebut.

Oiya, satu lagi yang harus diperhatikan ketika menyusun outline. Biasanya, keterangan yang diisikan pada “Keterangan Bab...”, akan berbeda untuk fiksi dan non-fiksi. Hal itu bisa terjadi, dikarenakan isi dari tulisan tersebut pun berbeda.

Contoh dari outline fiksi,
Tulisan fiksi, berjudul: Raja Indonesia
Raja Indonesia
I. Mitos
a. Cerita-cerita Kerajaan Lama
b. Cerita-cerita Kerajaan Baru
c. Kenyataan sebuah ramalan

Bagaimana Meresensi Buku? Nich… caranya!

Berikut ini adalah cara praktis yang dapat Anda gunakan untuk membuat resensi sebuah buku.
1. Melakukan penjajakan atau pengenalan buku yang diresensi, meliputi:
• Tema buku yang diresensi, serta deskripsi buku.
• Siapa penerbit yang menerbitkan buku itu, kapan dan di mana diterbitkan, tebal (jumlah bab dan halaman), format hingga harga.
• Siapa pengarangnya: nama, latar belakang pendidikan, reputasi dan presentasi buku atau karya apa saja yang ditulis sampai alasan mengapa ia menulis buku itu.
• Penggolongan / bidang kajian buku itu: ekonomi, teknik, politik, pendidikan, psikologi, sosiologi, filsafat, bahasa, sastra, atau lainnya.
2. Membaca buku yang akan diresensi secara menyeluruh, cermat, dan teliti. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami dengan tepat dan akurat.
3. Menandai bagian-bagian buku yang memerlukan perhatian khusus dan menentukan bagian-bagian yang akan dikutip sebagai data acuan.
4. Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang akan diresensi.
5. Menentukan sikap atau penilaian terhadap hal-hal berikut ini:
• Organisasi atau kerangka penulisan; bagaimana hubungan antar bagian satu dengan lainnya, bagaimana sistematika, dan dinamikanya.
• Isi pernyataan; bagaimana bobot idenya, seberapa kuat analisanya, bagaimana kelengkapan penyajian datanya, dan bagaimana kreativitas pemikirannya.
• Bahasa; bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan, bagaimana penggunaan kalimat dan ketepatan pilihan kata di dalamnya, terutama untuk buku-buku ilmiah.
• Aspek teknis; bagaimana tata letak, bagaimana tata wajah, bagaimana kerapian dan kebersihan, dan kualitas cetakannya (apakah ada banyak salah cetak).
Sebelum melakukan penilaian, alangkah baiknya jika terlebih dahulu dibuat semacam garis besar (outline) dari resensi itu. Outline ini akan sangat membantu kita ketika menulis.
6. Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar- dasar dan kriteria-kriteria yang telah kita tentukan sebelumnya.
Bahan dikutip dari sumber:
Judul Buku : Dasar-dasar Meresensi Buku
Penulis : DR. A.M. Slamet Soewandi

Minggu, 05 April 2009

Apa Liberalisme?

Dalam rangka ulang tahun Jaringan Islam Liberal (JIL) yang keenam, Dr Luthfi Assyaukanie, pendiri JIL menulis artikel bertema 'Dua Abad Islam Liberal' di kolom Bentara Kompas, 2/3/07. Dalam tulisannya, Luthfi sangat memuji paham liberalisme dan memberinya beberapa justifikasi dalam Islam.
Bahkan dengan merujuk pemikiran Albert Hourani, Luthfi menandai kedatangan Napoleon Bonaparte untuk menjajah Mesir (1798) sebagai awal era liberal bagi bangsa Arab dan kaum Islam. Era liberal baginya adalah awal era kebangkitan kesadaran kaum Muslim, di mana umat Islam bebas mengartikulasikan kesadaran budaya dan peradaban mereka. Sehingga sejak 1798, Islam liberal genap berusia 209 tahun.
Kebebasan menurut Luthfi adalah faktor utama kemajuan bangsa. Hilangnya kebebasan berarti hilangnya kebangkitan sebuah bangsa. Kebebasan berpikir sebagai perluasan arti kata liberal, kemudian disetarakan dengan konsep ijtihad dalam Islam. Artikel ini secara singkat akan membahas paham liberal dalam wacana Barat dan epistemologi Islam.
Makna liberal
Ensiklopedi Britannica 2001 deluxe edition CD-ROM, menjelaskan bahwa kata liberal diambil dari bahasa Latin liber, free. Liberalisme secara etimologis berarti falsafah politik yang menekankan nilai kebebasan individu dan peran negara dalam melindungi hak-hak warganya. Makna senada juga terdapat dalam Wikipedia.
Sejarah liberalisme termasuk juga liberalisme agama adalah tonggak baru bagi sejarah kehidupan masyarakat Barat dan karena itu, disebut dengan periode pencerahan. Perjuangan untuk kebebasan mulai dihidupkan kembali di zaman renaissance di Italia. Paham ini muncul ketika terjadi konflik antara pendukung-pendukung negara kota yang bebas melawan pendukung Paus.
Liberalisme lahir dari sistem kekuasaan sosial dan politik sebelum masa Revolusi Prancis berupa sistem merkantilisme, feodalisme, dan gereja roman Katolik. Liberalisme pada umumnya meminimalkan campur tangan negara dalam kehidupan sosial. Sebagai satu ideologi, liberalisme bisa dikatakan berasal dari falsafah humanisme yang mempersoalkan kekuasaan gereja di zaman renaissance dan juga dari golongan Whings semasa Revolusi Inggris yang menginginkan hak untuk memilih raja dan membatasi kekuasaan raja. Mereka menentang sistem merkantilisme dan bentuk-bentuk agama kuno dan berpaderi.
Liberalisme antistatis, seperti yang diperjuangkan oleh Frederic Bastiat, Gustave de Molinari, Herbert Spencer, dan Auberon Herbert, adalah aliran ekstrem yang dikenal dengan anarkhisme (tidak ada pemerintahan) ataupun minarkisme (pemerintahan yang kecil yang hanya berfungsi sebagai the nightwatchman state. Liberalisme selalu menentang sistem kenegaraan yang didasarkan pada hukum agama.
Oxford English Dictionary menerangkan bahwa perkataan liberal telah lama ada dalam bahasa Inggris dengan makna sesuai untuk orang bebas, besar, murah hati dalam seni liberal. Pada awalnya, liberalisme bermaksud bebas dari batasan bersuara atau perilaku, seperti bebas menggunakan dan memiliki harta, atau lidah yang bebas, dan selalu berkaitan dengan sikap yang tidak tahu malu.
Bagaimanapun, bermula pada 1776-1788, oleh Edward Gibbon, perkataan liberal mulai diberi maksud yang baik, yaitu bebas dari prasangka dan bersifat toleran. Maka pengertian liberal pun akhirnya mengalami perubahan arti dan berkembang menjadi kebebasan secara intelektual, berpikiran luas, murah hati, terus terang, sikap terbuka dan ramah.
Prinsip dasar liberalisme adalah keabsolutan dan kebebasan yang tidak terbatas dalam pemikiran, agama, suara hati, keyakinan, ucapan, pers dan politik. Di samping itu, liberalismme juga membawa dampak yang besar bagi sistem masyarakat Barat, di antaranya adalah mengesampingkan hak Tuhan dan setiap kekuasaan yang berasal dari Tuhan; pemindahan agama dari ruang publik menjadi sekedar urusan individu; pengabaian total terhadap agama Kristen dan gereja atas statusnya sebagai lembaga publik, lembaga legal dan lembaga sosial.
Dalam liberalisme budaya, paham ini menekankan hak-hak pribadi yang berkaitan dengan cara hidup dan perasaan hati. Liberalisme budaya secara umum menentang keras campur tangan pemerintah yang mengatur sastra, seni, akademis, perjudian, seks, pelacuran, aborsi, keluarga berencana, alkohol, ganja, dan barang-barang yang dikontrol lainnya. Belanda, dari segi liberalisme budaya, mungkin negara yang paling liberal di dunia.
Sedangkan liberalisme ekonomi mendukung kepemilikan harta pribadi dan menentang peraturan-peraturan pemerintah yang membatasi hak-hak terhadap harta pribadi. Paham ini bermuara pada kapitalisme melalui pasar bebas.
Kerancuan epistemologi
Merujuk apa yang telah didefinisikan tersebut, sebenarnya pemakaian istilah Islam liberal sangat rancu, bahkan cenderung kontradiktif baik dari sisi etimologi, terminologi maupun epistemologi. Dari sisi etimologi tidak satu pun kata Islam berkonotasi pada makna kebebasan seperti yang dijelaskan pada makna kata liberal. Sebab kebebasan dalam Islam senantiasa merujuk pada kata ikhtiar, yaitu kebebasan memilih yang berakar pada kata khair (baik). Dengan demikian, kebebasan dalam Islam hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat baik, sehingga seorang Muslim tidak dibebaskan untuk berbuat yang tidak baik.
Sedangkan istilah Islam liberal, seperti yang dipaparkan oleh Dr Ugi Suharto dalam situs mufti selangor, pertama kali digunakan oleh para penulis Barat seperti Leonard Binder dan Charles Kurzman. Binder menggunakan istilah Islamic liberalism, sementara Kurzman memakai istilah liberal Islam. Secara tersirat, keduanya mempercayai bahwa Islam itu banyak; Islam liberal adalah salah satunya.
Jadi, istilah Islam liberal yang dimaksudkan di sini adalah pemikiran Islam liberal yang merupakan satu aliran berpikir baru di kalangan umat Islam. Dalam konteks Indonesia, sebuah disertasi yang ditulis oleh Greg Barton pada tahun 1995 menggambarkan munculnya pemikiran liberal di kalangan pemikir Indonesia. Disertasi yang aslinya bertema 'The Emergence of Neo-Modernism: A Progressive, Liberal Movement of Islamic Thought' ini, lalu diterbitkan dalam edisi Indonesia atas kerja sama Paramadina, Yayasan Adikarya Ikapi, dan Ford Foundation pada tahun 1999.
Sebenarnya, analisis Luthfi tentang Islam liberal lebih cenderung menyamakan problem Barat terhadap agamanya lalu melimpahkannya kepada Islam. Penggantian makna liberal dengan maksud yang sangat positif, seperti yang terjadi dalam perkembangan makna istilah ini di Barat, juga dilakukan Luthfi dengan menyandingkannya dengan konsep ijtihad. Padahal prinsip ijtihad dalam Islam bertentangan dengan paham liberal. Sebab kebebasan ber-ijtihad tunduk pada beberapa kaidah dan persyaratan yang telah disepakati oleh kaum Muslimin, seperti kaidah tidak ada ijtihad dalam masalah yang bersifat pasti.
Kesimpangsiuran sejarah Islam Liberal, adalah bukti bahwa aliran ini tidak memiliki akar dalam sejarah Islam. Ahmad Sahal, seperti yang dikutip oleh Dawam Rahardjo, menisbahkan pemikiran Islam liberal dimulai sejak Umar bin Khattab, yang sering berbeda pendapat dengan Rasulullah mengenai masalah-masalah dunia. Jika klaim Sahal ini benar, maka usia Islam liberal bukan 2 abad, tetapi seusia dengan agama Islam itu sendiri, yaitu 15 abad.
Pemikiran Islam liberal sebenarnya berakar dari pengaruh pandangan hidup Barat dan hasil perpaduan antara paham modernisme yang menafsirkan Islam sesuai dengan modernitas; dan paham posmodernisme yang anti kemapanan. Upaya merombak segala yang sudah mapan kerap dilakukan, seperti dekonstruksi atas definisi Islam sehingga orang non-Islam pun bisa dikatakan Muslim, dekonstruksi Alquran sebagai kitab suci, dan sebagainya. Islam liberal sering memanfaatkan modal murah dari radikalisme yang terjadi di sebagian kecil kaum Muslimin, dan tidak segan-segan mengambil hasil kajian orientalis, metodologi kajian agama lain, ajaran HAM versi humanisme Barat, falsafah sekularisme, dan paham lain yang berlawanan dengan Islam.
Dengan mengamati coraknya, maka dapat disimpulkan bahwa pemikiran Islam liberal adalah pemikiran liberal yang ditujukan kepada agama Islam. Oleh karena itu akan banyak membawa konsekuensi serius bila Islam Liberal dikategorikan sebagai bagian dari pemikiran atau madzhab Islam. Dengan demikian adanya liberalisme dalam Islam, sejatinya memperkuat hipotesa Ibnu Khaldun (1332-1406M) bahwa bangsa pecundang gemar meniru bangsa yang lebih kuat, baik dalam slogan, cara berpakaian, cara beragama, gaya hidup, serta adat istiadatnya.
Ikhtisar
- Liberalisme adalah tonggak baru searah kehidupan masyarakat Barat.
- Sistem kenegaraan yang didasarkan pada hukum agama, merupakan 'musuh' abadi liberalisme.
- Penggabungan paham liberal dengan Islam, sangatlah rancu dan kontradiktif.
- Pemikiran Islam liberal bisa disebut sebagai pemikiran liberal yang ditujukan kepada Islam.

Fundementalisme Bersemayam di Kepala Orang - orang yang mengaku liberal

Fundamentalisme Bersemayam di Kepala Orang-orang yang Mengaku Liberal

Tampaknya demokrasi dan kebebasan beragama kita semakin hilang, hal ini bisa
terlihat dari seorang Sandrina Malakiano Fatah yang dipaksa untuk melepas
jilbanya atau terus siaran. Tanpaknya Metro TV lebih menginginkan wanita
menggunakan bikini atau busana yang mengundang sahwat bagi pria.

Pengalaman Sandrina Malakiano Fatah ini diambil dari Facebooknya yang
menunjukkan bahwa cara berfikir orang-orang yang merasa liberal justru sudah
masuk kejurang pengekangan terhadap kebebasan orang lain untuk memilih.

Ini cerita lama. Tapi, tetap menarik untuk disimak.

Berikut ceritanya:

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya
sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa –
sebagaimana Islam mengajarkan – di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi
keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak
pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai
dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk
siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya
siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya
memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan
di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya,
setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang
sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya
merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk
menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan
untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama
enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap
terikat pada institusi Metro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di
ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini
adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai
pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai
anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini
sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV
internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya
kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan
bahwa "dunia tak selebar daun Metro TV', saya bergeming dengan keputusan itu.
Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya
terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya
tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana
mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah
memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana mungkin saya bisa
menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar
ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang
ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat
kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang
antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa
stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak
untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor
di acara "Ensiklopedi Al Quran" selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun
mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan
keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya
bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran,
memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan
terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam.
Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah
proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah
upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu
mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya
adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain
untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas
nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya
menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di
mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga
ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam
berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya
menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle – seseorang yang
senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan
kadang-kadang orang tua – di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu
dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam
berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya
berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar
buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya
siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam
ingatan saya adalah, "Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar."

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan
gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan
penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki
oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti
bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk
tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang
perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka
memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan
seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme – mungkin dalam
bentuknya yang lebih berbahaya – ternyata bisa bersemayam di kepala prang-orang
yang mengaku liberal. (*)