workshop Nasional

workshop Nasional
ASDEKSI

Selasa, 09 Juni 2009

Wanita Citra Sebuah Peradaban

By: Abunazar bin Usman
Seorang ibu ibarat sekolah…….
Apabila kamu siapkan dengan baik….
Berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya
Tiga-puluh-lima tahun silam, pada 1970, sebuah acara mewah meriah di Royal Albert Hall, London, tiba – tiba berubah menjadi huru – hara. Sang pembawa acara, Bob Hope, disemprot tinta, dilempar bom tepung, tomat dan telur busuk. Hadirin panik, dewan juri melarikan diri keluar, para kontestan menangis, sementara gerombolan demonstran mengamuk sambil meneriakan yel – yel: “kami tidak cantik jelita. Tidak pula jelek. Kami marah! ( we ‘re not beautiful, we’re not ugly. We are angry!). protes itu keras terhadap kontes Miss World Beauty itu dilakukan oleh sejumlah aktivis wanita yang bergabung dalam Gerakan Pembebasan Perempuan.
Gambaran peristiwa diatas memperlihatkan bagaimana kondisi kehidupan masyarakat disana, terutama yang menyangkut nasib dan peran kaum wanita. Salah satu penyebabnya ialah pandangan ‘sebelah mata’ terhadap perempuan (misogyny) dan berbagai macam anggapan buruk, serta citra negative yang dilekatkan kepada mereka. Semua itu bahkan sudah mengejawantah dalam tata nilai masyarakat, kebudayaan, hukum, dan politik. Rousseau dan Nietzsche di awal abad modern, citra dan kedudukan perempuan memang tidak pernah dianggap setara dengan laki – laki. Wanita disamakan dengan budak (hamba sahaya) dan anak – anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya.
Namun, jika penelusuran kita sudah sampai pada Islam, kita akan menemukan bahwa Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dengan memandangnya sebagai anak, istri, ibu dan anggota masyarakat. Dengan demikian, islam memandang wanita sebagai manusia. Wanita diberi tugas dan kewajiban seperti halnya laki – laki, kepadanya disampaikan perintah dan larangan Allah seperti halnya kepada laki – laki, islam mengangkat derajat prempuan dan menjadikannya sebagai mitra laki – laki, dalam hak maupun kewajiban.

Tidak ada komentar: