workshop Nasional
ASDEKSI
Selasa, 09 Juni 2009
Menuju Lembah Hijau CIOS
Hijau menjulang daun – daun palem, berdiri tegak sejajar laksana para prajurit menjadi pagar betis Institut Studi Islam Darussalam, terpampang bangunan masjid yang begitu megah sebagai symbol kekuatan islam, berderet rapi dengan warna hijau sebagai lambang kelembutan surga yang akan menyambut manusia – manusia yang beriman dan taqwa kepada Allah swt. Yaitu Kamar – kamar yang tertata rapi. Subhaanallah, aku sudah berada ditempat yang begitu sunyi dari hiruk pikuk suara anak – anak yang menghiasi kehidupanku setiap hari sewaktu di asrama SD Islam Darunnajah, berbeda dan sangat berbeda, sebelumnya aku selalu mendengar teriakan, gemuruh suara lantai, dan aduan dari bocah – bocah tanpa dosa. Kini sunyi, sepi, dan hening laksana tempat para sufi yang mencari sebuah ketenangan dan kedamaian hidup dari riuhnya manusia yang merebutkan tahta, harta dan wanita. Ya, suasana baru yang terasa saat ini menjadi langkah baru bagiku untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak – banyaknya dari para mualim yang akan mengisi program Pendidikan Kader Ulama (PKU) gelombang dua ini, entah angin apa yang meyakinkan aku untuk mengikuti program tersebut ketika sekertaris pesantren “ Iqbal Aceh” sapaan akrabnya yang ketika itu memberi tawaran kepadaku ketika aku hendak melaksanakan sholat Ashar.. ust! Dia memanggil dengan penuh keseriusan dan menyampaikan maksudnya “ antum mau nggak mengikuti program PKU? Emm, InsyaAllah jawabku! Kapan? Kembali aku memberi respon, awal Maret insyaAllah, ia mempertegas.. Berapa orang rencananya dari sini, (darunnajah-red) tanyaku? Kurang lebih enam orang yang akan diajukan, jawabnya. Emang syaratnya apa saja, kembali aku melontarkan pertanyaan – pertanyaan mengenai program PKU! Yang jelas mereka – mereka yang sudah selesai s1.. suara qomat menghentikan pertanyaan – pertanyaanku. Setelah sholat ashar selesai kembali ku temui Ust. Aceh, sekedar meyakinkan diriku yang selama di Darunnajah belum pernah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti workshop yang sampai keluar jauh seperti tawaran yang baru saja ku dengar. Sesampainya di kamar aku berpikir dan berpikir, wah! Nanggung banget ya programnya, pikirku! Anak – anakku saat ini butuh perhatian keras karena sebentar lagi akan menghapi MID Semester dan bagi mereka yang sudah duduk di kelas 6 (enam) akan menghadapi UASBN, Ya Allah, berikan yang terbaik dari permasalahnku saat ini. Keesokan harinya aku dan aceh mendapat tugas untuk menjadi MC pada acara Kunjungan halida hatta putri proklamator RI Bapak Muhammad Hatta, sewaktu melewati pintu utama, aku bertemu dengan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnjah Jakarta, Ust. Aunurrafiq, M.Pd. beliau memberi tawaran kembali perihal program PKU. Zar, kamu siap nggak mengikuti program MUI, kader Ulama di gontor, katanya! Sesaat aku terdiam, dan akhirnya ku jawab dengan setengah yakin, InsyaAllah! Jawabku maasih dengan perasaan setengah yakin, namun semangkin mantap aku meyakinkan hal ini, dimulailah acara silaturahmi salah satu calon DPR RI dari salah satu partai baru dalam percaturan politik di negeri tercinta ini, meriah sekali karena disambut dengan terompet dan iringan drum yang begitu indah terdengar, santri wati sebagai team marching bandnya, duduk berdampingan bersama pimpinan KH, Drs, Makhrus Amin dan suara lantang yang tak asing lagi bagi seluruh warga darunnajah menghantarkan acara pada malam itu berjalan dengan lancer dan hikmat, ya! Malam jumat sebagai malam yang biasa digunakan sebagai Muhadloroh (latihan pidato –red) maka, dalam sambutannya pendiri sekaligus pimpinan pesantren tersebut beliau mengatakan, bahwasanya pada malam ini kita sedang melaksanakan latihan Muhadloroh Akbar atau latihan bersama, memang cukup meriah acara malam itu karena tak kalah menarik dengan penampilan DEBU salah satu group music yang pernah tampil memberi hiburan kepada santri – santri Darunnajah, team Qasidah putri tampil dengan mempesona dengan vocalis yang begitu elok suaranya menyanyikan lagu maqadir dan tak kalah indah tubuh santriwati yang menyuguhkan tari dari Aceh, sebenarnya acara restingnya kami berdua sebagai hostnya namun, nggak tahu kenapa Ust. Mardani, MA. Menghendel semua padahal kami berdua sudah siap, sempat gondok kami dibelakang panggung. Ya udahlah kalo begitu, ku tinggalkan acara malam itu. Kembali terpikir olehku tawaran yang disampaikan kepala STAIDA pada malam itu.
Keserasian bukan Persamaan Gender
By: Abunazar Alim bin Usman
Islam mengangkat persamaan derajat perempuan dan menjadikannya sebagai mitra laki – laki dalam hak maupun kewajiban. Dalam Islam perempuan juga di posisikan secara adil sebagai kerabat laki – laki. Keadilan itu tampak ketika Islam memandang bahwa Perempuan sederajat dengan laki - laki dalam iman dan martabat. Tidak hanya itu, antara laki – laki dan perempuan saling melengkapi, seperti dijelaskan dalam Al-Quran bahwa perempuan diciptakan untuk laki – laki, demikian juga laki – laki diciptakan untuk perempuan. Selain itu juga, Islam mengakui hak asasi, hak kewarganegaraan dan hak politik kaum perempuan secara penuh. Dalam taklif syariah dan pahala di akhirat, perempuan juga sejajar dengan laki – laki, tanpa ada diskriminasi apa pun. Misalnya: laki – laki dan perempuan yang beramal sholeh (sholat, shodaqoh, haji dan lain – lain), pahalanya sama. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa firman Allah Swt., berikut : “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” Demikianlah, diantara bukti keadilan Islam dalam memandang perempuan, dan masih banyak lagi ayat – ayat lain yang menjelaskan tentang keadilan. Persamaan itupun terdapat dalam hudud (ketentuan hukuman) dan sanksi syariah, firman Allah Swt., “ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Islam juga mempersamakan antara laki – laki dan perempuan dalam memanfaatkan dan menggunakan hak miliknya dalam masalah – masalah harta benda. Islam tidak mengurangi hak perempuan sedikitpun, kalaupun ada kekurangan, kekurangan tersebut akan di ganti dengan kelebihan hak dalam kondisi yang lain. Inilah keadilan Islam yang menyamakan hak dan kewajiban laki – laki dan perempuan tanpa diskriminasi.
Islam mengangkat persamaan derajat perempuan dan menjadikannya sebagai mitra laki – laki dalam hak maupun kewajiban. Dalam Islam perempuan juga di posisikan secara adil sebagai kerabat laki – laki. Keadilan itu tampak ketika Islam memandang bahwa Perempuan sederajat dengan laki - laki dalam iman dan martabat. Tidak hanya itu, antara laki – laki dan perempuan saling melengkapi, seperti dijelaskan dalam Al-Quran bahwa perempuan diciptakan untuk laki – laki, demikian juga laki – laki diciptakan untuk perempuan. Selain itu juga, Islam mengakui hak asasi, hak kewarganegaraan dan hak politik kaum perempuan secara penuh. Dalam taklif syariah dan pahala di akhirat, perempuan juga sejajar dengan laki – laki, tanpa ada diskriminasi apa pun. Misalnya: laki – laki dan perempuan yang beramal sholeh (sholat, shodaqoh, haji dan lain – lain), pahalanya sama. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa firman Allah Swt., berikut : “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” Demikianlah, diantara bukti keadilan Islam dalam memandang perempuan, dan masih banyak lagi ayat – ayat lain yang menjelaskan tentang keadilan. Persamaan itupun terdapat dalam hudud (ketentuan hukuman) dan sanksi syariah, firman Allah Swt., “ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Islam juga mempersamakan antara laki – laki dan perempuan dalam memanfaatkan dan menggunakan hak miliknya dalam masalah – masalah harta benda. Islam tidak mengurangi hak perempuan sedikitpun, kalaupun ada kekurangan, kekurangan tersebut akan di ganti dengan kelebihan hak dalam kondisi yang lain. Inilah keadilan Islam yang menyamakan hak dan kewajiban laki – laki dan perempuan tanpa diskriminasi.
Wanita Citra Sebuah Peradaban
By: Abunazar bin Usman
Seorang ibu ibarat sekolah…….
Apabila kamu siapkan dengan baik….
Berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya
Tiga-puluh-lima tahun silam, pada 1970, sebuah acara mewah meriah di Royal Albert Hall, London, tiba – tiba berubah menjadi huru – hara. Sang pembawa acara, Bob Hope, disemprot tinta, dilempar bom tepung, tomat dan telur busuk. Hadirin panik, dewan juri melarikan diri keluar, para kontestan menangis, sementara gerombolan demonstran mengamuk sambil meneriakan yel – yel: “kami tidak cantik jelita. Tidak pula jelek. Kami marah! ( we ‘re not beautiful, we’re not ugly. We are angry!). protes itu keras terhadap kontes Miss World Beauty itu dilakukan oleh sejumlah aktivis wanita yang bergabung dalam Gerakan Pembebasan Perempuan.
Gambaran peristiwa diatas memperlihatkan bagaimana kondisi kehidupan masyarakat disana, terutama yang menyangkut nasib dan peran kaum wanita. Salah satu penyebabnya ialah pandangan ‘sebelah mata’ terhadap perempuan (misogyny) dan berbagai macam anggapan buruk, serta citra negative yang dilekatkan kepada mereka. Semua itu bahkan sudah mengejawantah dalam tata nilai masyarakat, kebudayaan, hukum, dan politik. Rousseau dan Nietzsche di awal abad modern, citra dan kedudukan perempuan memang tidak pernah dianggap setara dengan laki – laki. Wanita disamakan dengan budak (hamba sahaya) dan anak – anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya.
Namun, jika penelusuran kita sudah sampai pada Islam, kita akan menemukan bahwa Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dengan memandangnya sebagai anak, istri, ibu dan anggota masyarakat. Dengan demikian, islam memandang wanita sebagai manusia. Wanita diberi tugas dan kewajiban seperti halnya laki – laki, kepadanya disampaikan perintah dan larangan Allah seperti halnya kepada laki – laki, islam mengangkat derajat prempuan dan menjadikannya sebagai mitra laki – laki, dalam hak maupun kewajiban.
Seorang ibu ibarat sekolah…….
Apabila kamu siapkan dengan baik….
Berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya
Tiga-puluh-lima tahun silam, pada 1970, sebuah acara mewah meriah di Royal Albert Hall, London, tiba – tiba berubah menjadi huru – hara. Sang pembawa acara, Bob Hope, disemprot tinta, dilempar bom tepung, tomat dan telur busuk. Hadirin panik, dewan juri melarikan diri keluar, para kontestan menangis, sementara gerombolan demonstran mengamuk sambil meneriakan yel – yel: “kami tidak cantik jelita. Tidak pula jelek. Kami marah! ( we ‘re not beautiful, we’re not ugly. We are angry!). protes itu keras terhadap kontes Miss World Beauty itu dilakukan oleh sejumlah aktivis wanita yang bergabung dalam Gerakan Pembebasan Perempuan.
Gambaran peristiwa diatas memperlihatkan bagaimana kondisi kehidupan masyarakat disana, terutama yang menyangkut nasib dan peran kaum wanita. Salah satu penyebabnya ialah pandangan ‘sebelah mata’ terhadap perempuan (misogyny) dan berbagai macam anggapan buruk, serta citra negative yang dilekatkan kepada mereka. Semua itu bahkan sudah mengejawantah dalam tata nilai masyarakat, kebudayaan, hukum, dan politik. Rousseau dan Nietzsche di awal abad modern, citra dan kedudukan perempuan memang tidak pernah dianggap setara dengan laki – laki. Wanita disamakan dengan budak (hamba sahaya) dan anak – anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya.
Namun, jika penelusuran kita sudah sampai pada Islam, kita akan menemukan bahwa Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dengan memandangnya sebagai anak, istri, ibu dan anggota masyarakat. Dengan demikian, islam memandang wanita sebagai manusia. Wanita diberi tugas dan kewajiban seperti halnya laki – laki, kepadanya disampaikan perintah dan larangan Allah seperti halnya kepada laki – laki, islam mengangkat derajat prempuan dan menjadikannya sebagai mitra laki – laki, dalam hak maupun kewajiban.
Program Kader Ulama di ISID Gontor Ponorogo

Dalam mengatasi krisis ulama, dan upaya pengembangan sumber daya umat islam, serta memperkuat dan memperluas dalam memperdalam bekal ilmu pengetahuan calon ulama (Da’i), Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo bekerjasama dengan majelis ulama Indonesia (MUI) menggelar program kaderisasi ulama.
Sejak tanggal, 01 April 2009 saya dan 15 utusan dari berbagai Pondok Pesantren dan Ormas Islam mengikuti Program Kaderisasi Ulama (PKU) bertempat di Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), ISID Gontor. Program ini terselenggara atas kerjasama antara MUI, DEPAG, dan Pondok Modern Daarussalam Gontor. Misi dari program yang diikuti oleh 16 peserta dari utusan beberapa pesantren dan MUI daerah ini adalah untuk melahirkan kader Ulama dengan menitikfokuskan pada :
1. Penguasaan ilmu-ilmu dasar keislaman
2. Pemahaman pemikiran Islam kontemporer yang berasal dari metodologi, ideologi, dan filsafat Barat
3. Identifikasi peta potensi umat Islam dan dunia Islam dalam bidang pendidikan, dakwah, ekonomi, politk, dan budaya
4. Pengembangan potensi dalam memimpin, mendidik, berdakwah, berusaha, berpolitik dan pengembangan ilmu (self study)
5. Pengembangan potensi dalam berdiskusi, berdebat, berpolemik, dan berdialog secara lisan maupun tulisan
Tujuan kegiatan yang diasuh oleh seorang doktor pemikiran Islam (Hamid Fahmy Zarkasyi, Ph.D) ini adalah untuk membendung laju liberalisasi pemikiran Islam yang semakin merasuk ke dalam mindset umat secara massif. Untuk mencapainya, penyelenggara program mendatangkan para tenaga pengajar profesional dalam masing-masing bidang, di antaranya:
1. Pemimpin Pesantren
2. Doktor bidang al Quran, Tafsir, Hadith, dan Fikih lulusan dalam dan luar negeri.
3. Doktor bidang pemikiran Islam (kalam, falsafah,tasawwuf)
4. Doktor dalam bidang peradaban Islam
5. Pakar-pakar dalam bidang ghozwul fikri, kristologi, multimedia dan jurnalistik
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta dan cabangnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang turut serta menjaga keutuhan ajaran Islam sangat mengapresiasi program ini dan berharap agar para kader pesantren dan ormas mampu memberikan pencerahan dalam ruang lingkup pesantren khusunya dan umat Islam pada umumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)