workshop Nasional

workshop Nasional
ASDEKSI

Rabu, 28 Juli 2010

Menjadi sang Juara

“Allah SWT tidak akan merubah nasib seseorang jika orang itu sendiri tidak berusaha merubahnya” inilah firman Allah yang memotivasi kami dan anak – anak futsal SD Islam Darunnajah Jakarta ( yang tergabung dalam Eskul Bola) untuk terus berusaha menjadi yang terbaik. Berusaha adalah cara untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan menjadi sang juara, dengan usaha terus – menerus pantang menyerah dan selalu sabar, haqul yakin pasti akan mendapat yang terbaik.
Semboyan yang kami usung adalah kalau orang lain bisa menjadi juara kenapa kami tidak atau dalam sebuah mahfudzhot dikatakan “man jadda wa jadda” siapa yang bersungguh – sungguh pasti akan sukses. Namun semuanya kami serahkan kepada Allah swt. Kalau kita sudah berusaha, masih mentok juga, apa boleh buat, tidak harus kecewa, karena semua sudah diatur oleh Allah SWT, maka bertawakal hanya kepada Allah swt.
Keberhasilan seseorang membutuhkan kerja keras dan terus – menerus, sangat berpangku pada kemampuan diri sendiri dan team, kesempatan untuk terus meningkatkan diri dan kompak bersama team, dan strategi untuk mencapai keberhasilan. Dan yang perlu diperhatikan bahwa seseorang memiliki potensi untuk menjadi pemain yang baik, asalkan mau berusaha mengasah potensinya.
Abunazar Alim, S.Pd.I (Jumat, 21 Mei 2010)

Jadilah Pribadi yang Disiplin*

Banyak pekerjaan, pikiran dan hal – hal lain yang harus diselesaikan. Walaupun demikian, kita mengeluh, apalagi menyerah menghadapi semuanya. Jika tiap kali mendapat masalah selalu mengeluh, kita selamanya akan menjadi manusia lemah. Teringat kata – kata pak Sahal tatkala beliau dihadapkan dengan masalah besar dan kiranya sulit diselesaikan, beliau selalu berkata, “ hayo, jajal awak mendak matio!” (ayo lawan saya nanti kamu mati) jika kita terbiasa menghadapi segala masalah didepan mata untuk diselesaikan segera, maka masalah – masalah tersebut akan cepat berlalu, hingga kita mampu menyelesaikan segala masalah dengan dinamika tinggi.
Ibaratnya, musuh jangan dicari, tapi andai musuh datang, jangan kita lari terbirit – birit. Kita harus mencoba kemampuan kita untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Yang paling sulit kita lakukan adalah menata hati dan pikiran. Kalau sesekali kita diserang, dihujat, atau dikritik orang, sebaiknya kita lawan dengan hasil karya nyata pekerjaan. Lawanlah dengan prestasi, peningkatan, dan kemajuan. Itulah hakikat dari filsafat, “ bertahan yang paling baik adalah menyerang.” Kebiasaan kita bekerja dinamis, akan memudahkan kita dalam segala hal. sebaliknya, jika kita tak terbiasa bersikap dinamis, segala pekerjaan kita akan sulit terselesaikan.
Maka hendaknya kita jangan menjadi orang yang bodoh dan pemalas, sehingga menyebabkan diri kita menjadi pengemis. Tapi jangan pula menjadi orang yang pemberani namun pemalas, karena pribadi seperti ini pekerjaannya hanya merampok. Orang yang terbiasa menyelesaikan pekerjaan dalam setiap jejak langkahnya, akan merasakan alangkah mudah hidup ini. Produktivitas akan membuat kita lega. Tentunya dengan tidak mengeluh. Lantas, bagaimana kita menghadapi dinamika kehidupan? Kuncinya adalah banyak mengambil inisiatif, berdoa, bermujahadah dengan membaca shalawat dan berdzikir. Dalam doa, dibutuhkan keyakinan bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa kita. Kalau kita meminta kepadaNya dengan penuh keyakinan, maka Allah akan mendengar doa kita.
Dikisahkan, saat Rasullullah SAW sedang berjalan di alam terbuka, tiba – tiba Nampak luapan api menyala besar. Tiba – tiba jatuh setetes air yang seketika itu memadamkan kobaran api tersebut. Rasulullah bertanya kepada malaikat Jibril, air apakah itu, wahai Jibril?” Jibril menjawab bahwa itu adalah air mata karena takut kepada Allah. Ketahuilah, bahwa manusia itu pada hakikatnya lemah, namun manusia mempunyai kekuatan berkat kuasa Allah yang menguatkan kita. Sebab semua kekuatan datangnya hanya dari Allah, dan kita harus meminta pertolongan kepadaNya. Kekuatan lahir dan batin. Bila kita menghadapi bermacam masalah besar, baik pribadi atau kelompok, lembaga atau organisasi, kita harus menghadapinya bersama – sama. Karena albaroqah ma’al jamaah.
*dikutip dari majalah gontor kolom tausiyah. (Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA)

Mulianya Seorang Wanita

Wanita dimuliakan derajatnya oleh islam. Wanita adalah sosok manusia yang memiliki kemampuan luar biasa berupa kasih sayang. Wanita yang dari dirinya mampu membangun sebuah peradaban. Bila wanita baik, bangsa akan baik, karena seluruh penduduk lahir dari rahimnya.
Berbeda dengan kajian filsafat Barat, wanita secara mayoritas dianggap sebagai makhluk yang lemah dan cacat, sehingga ia harus ditempatkan sebagai manusia kelas kedua setelah laki-laki. Mulai dari Plato (427-347 SM) yang idealis dan Aristoteles (384-322 SM) yang empirik sampai Jean-Paul Sartre (1905-1980 M) yang eksistensialis, hampir semuanya menganggap demikian. Hanya Jhon Stuart Mill (1806-1873 M) yang ahli psikologi yang menganggap perempuan mempunyai kemampuan setara dengan laki-laki.
Menurut McKay dalam bukunya a History of Western Society (1983), terdapat bukti-bukti kuat yang mengindikasikan bahwa perempuan telah dianggap sebagai makhluk inferior, bahkan pada tahun 1595, seorang profesor dari Wittenberg University melakukan perdebatan serius mengenai apakah perempuan itu manusia atau bukan. (Maududi, Hijab, 1995).
Kehidupan keras dialami oleh wanita - wanita di Eropa abad Pertengahan (The Middle Ages). Dalam esai Francis Bacon tahun 1612 yang berjudul Marriage and single Life (Kehidupan Perkawinan dan Kehidupan Sendiri), disebutkan banyak laki-laki memilih untuk hidup lajang, jauh dari pengaruh buruk wanita dan beban anak-anak sehingga dapat berkonsentrasi pada kehidupan publiknya. (Arivia, 2002). Karena diperlakukan sebagai makhluk tertindas, maka muncullah kemudian berbagai gerakan pembebasan wanita.
Arthur Schopenheur, dalam bukunya On Women berpendapat bahwa wanita memiliki sifat kekanak-kanakan, sembrono, picik. Wanita adalah makhluk inferior, tidak memiliki rasa keadilan, tidak objektif dan suka berbohong. Wanita itu tidak memiliki rasionalitas dan tidak dapat memutuskan persoalan secara adil. Wanita tidak pernah berbakat dalam estetika karena dinilai kurang intelek.
Begitu pula dengan Plato, dalam bukunya The Republic mengatakan bahwa perempuan itu ibarat hewan ternak yang harus diawasi setiap saat. Perempuan adalah makhluk yang tidak memiliki seni berperang. Oleh karena itu perempuan tidak perlu mendapatkan akses pendidikan.
Termasuk membebaskan diri dari kungkungan agama. Dalam bukunya, yang berjudul Membiarkan Berbeda?, (1999), pakar Ilmu Gizi IPB, Dr. Ratna Megawangi, menyebutkan, ide Kesteraan Gender bersumber pada paham Marxis, yang menempatkan perempuan sebagai kelas tertindas dan laki-laki sebagai kelas penindas. Institusi keluarga yang mendiskriminasi perempuan harus dihilangkan atau diperkecil perannya apabila masyarakat komunis ingin ditegakkan, yaitu masyarakat yang tidak ada kaya-miskin, dan tidak ada perbedaan peran antara laki-laki dan wanita.
Dalam filsafat Islam sangat berbeda dengan pendahulunya dan juga saudaranya di Barat. Dalam tradisi pemikiran filsafat Islam, para wanita tidak dibedakan dengan laki-laki tetapi justru diseterakan, sepanjang ia mempunyai kemampuan lebih. Stresingnya adalah kemampuan intelektual dan bukan jenis kelamin.
Kemudian, Islam adalah sistem kehidupan yang mengantarkan manusia untuk memahami realitas kehidupan. Islam juga merupakan tatanan global yang diturunkan Allah sebagai Rahmatan Lil-’alamin. Sehingga – sebuah konsekuensi logis – bila penciptaan Allah atas makhluk-Nya – laki-laki dan perempuan – memiliki misi sebagai khalifatullah fil ardh, yang memiliki kewajiban untuk menyelamatkan dan memakmurkan alam, sampai pada suatu kesadaran akan tujuan menyelamatkan peradaban kemanusiaan. Dengan demikian, wanita dalam Islam memiliki peran yang konprehensif dan kesetaraan harkat sebagai hamba Allah serta mengemban amanah yang sama dengan laki-laki.
Masyarakat Islam, untuk jangka waktu yang lama tidak mengenal tuntutan persamaan hak laki-laki dan perempuan sebab sejak awal Islam menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara. Innamâ nisâ syâqôiqul ar- rijal (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Nasa’i). Allah menyatakan kesetaraan perempuan dan laki-laki melalui firman-Nya (QS. al-Hujurat: 13; al-Ahzab: 35; at-Taubah: 71).
Dalam al-qur’an surah Al-Lail ayat 1 sampai 4, Allah SWT menganalogikan penciptaan laki-laki dan wanita itu seperti penciptaan malam yang gelap dan siang yang terang. Jika Allah hanya menjadikan untuk kita malam terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah yang akan mendatangkan sinar terang? Kalau Allah menjadikan siang terus-menerus sampai hari kiamat, siapa yang akan mendatangkan malam agar kita dapat beristirahat? Ini yang harus kita perhatikan.”
Allah menciptakan lelaki dan perempuan, Artinya lelaki mempunyai tugas dan perempuan mempunyai tugas. Seorang lelaki janganlah bermimpi menjadi perempuan dan perempuan tidak boleh bermimpi menjadi laki-laki. Karena hal itu telah keluar dari wilayah yang ditentukan Allah.
Wanita adalah sosok yang luar biasa tugasnya, yaitu mengasihi, Karena memang tugas seorang ibu mengasuh dan mendidik anak. Berbeda dengan laki-laki yang tidak mampu mengurusi anak, sebagaimana wanita mengurus. Laki-laki tidak dapat menanggung tugas seorang perempuan, karena memang laki-laki diciptakan untuk melakukan tugas lain, seperti bekerja di luar dan memenuhi semua kebutuhan keluarga sekaligus menjaga mereka. Dengan demikian, Hendaknya seorang wanita menjadi wanita, jangan bermimpi wanita akan menjadi lelaki. Begitu sebaliknya, janganlah laki – laki bermimpi untuk menjadi wanita. By: Abunazar Alim

Kamis, 07 Januari 2010

ETOS SEOARANG PENDIDIK

by: Abunazar Alim
1.Mendidik adalah rahmat, aku mendidik tulus penuh syukur
2.Mendidik adalah amanah, aku mendidik benar penuh tanggung jawab
3.Mendidik adalah panggilan, aku mendidik tuntas penuh integritas
4.Mendidik adalah aktualisasi, aku mendidik keras penuh semangat
5.Mendidik adalah ibadah, aku mendidik serius penuh kecintaan
6.Mendidik adalah seni, aku mendidik cerdas penuh kreativas
7.Mendidik adalah kehormatan, aku mendidik tekun penuh keunggulan
8.Mendidik adalah pelayanan, aku mendidik paripurna penuh ikhlas lillahi ta’ala

BERITA GHIBAH........

By: Abunazar Alim
Wartawan adalah profesi yang sangat membutuhkan kejujuran, untuk mencari dan menyusun fakta – fakta untuk diolah menjadi sebuah berita. dan wartawan juga berpeluang besar untuk melakukan ketidakjujuran, ketidakakuratan, atau bahkan manipulasi dan penipuan dalam penyajian berita kepada masyarakat. sebuah berita adalah informasi untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan sesuatu hal. bukan membincangkan aib ataupun memberitakan hal – hal yang membuat orang yang melihatnya terlena dan melupakan kewajibannya. Karena Infotainment adalah bagian dari para wartawan selayaknya untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Memberitakan dan membincangkan kejelekan aib seseorang adalah perbuatan yang sangat tercela. Dengan demikian, timbul pertanyaan! Bagaimana dengan acara televisi yang saat ini banyak memberitakan aib seseorang?
Dirjen Bimas Islam Depag, Prof Dr Nasaruddin Umar menegaskan, tayangan infotainment yang mengandung gosip, pribadi keluarga, rumah tangga seseorang yang pada akhirnya mengandung ghibah, tentu sangat tidak pantas untuk ditayangkan dan sebagai tontonan publik,"
Dengan demikian para pekerja infotainment harus benar – benar memperhatikan kode etik jurnalistik, tegas Rano Karno sebagai artis senior dan Wakil Bupati Tangerang saat ini. Maka, hal-hal yang dilarang agama, seperti mengumbar aurat, membuka aib orang lain, dan mengorek-ngorek kesalahan orang untuk dikonsumsi publik, menjadi satu hal yang tidak harus dieksploitasi karena merusak akhlak dan tidak memiliki nilai edukasi.
Dr. Zain Al-Najah menyatakan bahwa,“Membuka aib orang lain itu haram! Apalagi semua itu dilakukan tanpa ada maksud yang jelas atau tidak ada keuntungannya.”
Menurut Prof Dr. KH. Ali Mustafa Ya’kub, MA, hukum keharaman infotainment yang memfitnah dan mengumpat ini terang terdapat dalam Al-Qur’an, bahwasannya itu haram. QS. Al-Hujarat:12, bunyinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."
Dengan demikian, para infotainment seharusnya menayangkan atau memberitakan sebuah berita dengan tujuan yang baik dan dapat membangun peradaban. Kalau boleh saya ibaratkan, Seorang infotainment ibarat pedang, apabila pedang di tangan mujahid ia adalah alat untuk berjihad dan apabila pedang tersebut di tangan perampok, maka pedang itu merupakan alat untuk melakukan tindak kejahatan. Selanjutnya bagaimana para infotainment melaksanakan amanahnya tersebut.
Dan juga bagaimana pemerintah bertanggung jawab mengawasi jalannya infotainment. Namun, bagaimanapun seorang muslim memiliki tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah swt. Dari segala perbuatan yang dilakukan. Wallahu ‘alam bishowab.

PARFUM DUNIA VS PARFUM AKHIRAT

By : Abunazar Alim

Aku memang orang desa. Tentu asing dengan berbagai parfum yang saat ini tercium ketika aku berada di sebuah mall di belahan kota metropolitan. Jujur saja, ketika aku masih SD dulu, aku gunakan wewangian (parfum) yang kala itu baru mengenalnya. Sebagian orang pasti tahu minyak wangi cap putri duyung, atau lebih akrab di kenal dengan “minyak keyonyong.” Buat aku memang belum mengenal berbagai wewangian berkelas seperti yang saat ini tercium olehku.
Sebagai anak yang baru gede tentu aku juga ingin tampil oke disamping teman – teman sebayaku, dengan bau yang wangi tentunya untuk menutupi bau badan yang terkadang membuat orang harus menahan nafas. Seiring perjalan waktu dan semangkin aku tahu bahwa ternyata minyak yang aku biasa pakai tersebut digunakan untuk campuran bunga yang di jadikan sesajen.
Memang berbeda katika aku mulai bekarja dan menghasilkan uang sehingga dapat mengenal parfum yang berkelas seperti: boss, Bulgary, Versace, Escape dan lain - lain, dan itupun sebatas aku mengenal dari teman – teman yang memakainya, yang keharumannya sangat – sangat jauh dengan minyak wangi yang aku gunakan dulu. Dan ternyata minyak wangi yang aku pakai dulu kini tak mau aku memakainya lagi karena dapat membuat kepala menjadi pusing tujuh putaran.
Ada pelajaran yang dapat diambil dari cerita diatas, bahwa pernak – pernik kenikmatan dunia sebagai parfum yang sangat kita kagumi dan menganggap parfum dunia inilah yang terharum, terbaik dan mungkin satu – satunya yang ternikmat. Sementara kita belum pernah tahu dan lebih jauh lagi belum pernah mencium bau harum kenikmatan akhirat “parfum akhirat”, maka kita dapat menyaksikan bagaimana umat manusia berebut untuk dapat memiliki dan mencium terus kenikmatan parfum dunia. Bahkan untuk menciumnya menghalalkan segala cara untuk memiliki parfum dunia itu.
Coba kita renungkan firman Allah swt. “ dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (QS. 93:4)
Ternyata kenikmatan parfum dunia itu hanya ibarat “setetes air di lautan luas” dan firmannya juga, “ tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. 87: 16-17)
dan pesanNya lagi, “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir.” (QS. 17:18)
selanjutnya, bagaimana kita memahami ayat – ayat yang menggambarkan aktivitas bisnis manusia yang dapat menyeret kita sekuat – kuatnya sehingga lupa akan bisnis akhirat berikut ini:
“dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik pemberi rezki.” (QS. 62:11)
Sungguh kita telah banyak menyaksikan bagaimana orang – orang yang tadinya sangat khawatir tercebur pada perbuatan yang membahayakan masa depan akhirat, kini terjerumus dengan tidak sengaja ataupun sengaja kelembah hina yang dulu sangat ditakuti. Hanya sesuatu yang membuatnya jadi ternama misalnya, seorang yang tadinya sangat hati – hati dalam berpakaian, kini ia rela menggantungkkan bajunya dan iapun siap menjadi gantungan baju para disainer, apapun bentuk busananya. Yang penting aku banyak uang. Perhatikan pesan Allah swt. “Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. 2:86)
Jelas sekali di era kapitalais ini, bagaimana orang memandang orang lain. Seseorang dianggap hebat dan patut dihormati jika ia banyak harta. Seorang di anggap terkenal dan ternama karena seorang itu paling rajin tampil di ruang publik dengan terus memoles wajahnya dengan berbagai topeng yang melenakan alias menipu. Teori orang – orang kulit putih ditelan mentah – mentah tanpa ada filter dan firman Allah swt di tafsirkan semaunya sendiri. Mari kita renungkan firmanNya: “kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. 2:212)
Dengan demikian, kehidupan dunia ini diciptakan dengan maksud dan tujuan yang jelas. Namun, menghabiskan segala tenaga dan energi, waktu dan biaya, umur dan sampai menjual harga diri, hanya untuk mendapatkan dan merebutkan harumnya parfum dunia adalah KELIRU. Kejarlah akhiratmu maka, dunia akan kau dapat. Dunia adalah ladang dan jembatan untuk mencium parfum akhirat. Wallahu ‘alam bishowab.