By: Abunazar Alim
Wartawan adalah profesi yang sangat membutuhkan kejujuran, untuk mencari dan menyusun fakta – fakta untuk diolah menjadi sebuah berita. dan wartawan juga berpeluang besar untuk melakukan ketidakjujuran, ketidakakuratan, atau bahkan manipulasi dan penipuan dalam penyajian berita kepada masyarakat. sebuah berita adalah informasi untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan sesuatu hal. bukan membincangkan aib ataupun memberitakan hal – hal yang membuat orang yang melihatnya terlena dan melupakan kewajibannya. Karena Infotainment adalah bagian dari para wartawan selayaknya untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Memberitakan dan membincangkan kejelekan aib seseorang adalah perbuatan yang sangat tercela. Dengan demikian, timbul pertanyaan! Bagaimana dengan acara televisi yang saat ini banyak memberitakan aib seseorang?
Dirjen Bimas Islam Depag, Prof Dr Nasaruddin Umar menegaskan, tayangan infotainment yang mengandung gosip, pribadi keluarga, rumah tangga seseorang yang pada akhirnya mengandung ghibah, tentu sangat tidak pantas untuk ditayangkan dan sebagai tontonan publik,"
Dengan demikian para pekerja infotainment harus benar – benar memperhatikan kode etik jurnalistik, tegas Rano Karno sebagai artis senior dan Wakil Bupati Tangerang saat ini. Maka, hal-hal yang dilarang agama, seperti mengumbar aurat, membuka aib orang lain, dan mengorek-ngorek kesalahan orang untuk dikonsumsi publik, menjadi satu hal yang tidak harus dieksploitasi karena merusak akhlak dan tidak memiliki nilai edukasi.
Dr. Zain Al-Najah menyatakan bahwa,“Membuka aib orang lain itu haram! Apalagi semua itu dilakukan tanpa ada maksud yang jelas atau tidak ada keuntungannya.”
Menurut Prof Dr. KH. Ali Mustafa Ya’kub, MA, hukum keharaman infotainment yang memfitnah dan mengumpat ini terang terdapat dalam Al-Qur’an, bahwasannya itu haram. QS. Al-Hujarat:12, bunyinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."
Dengan demikian, para infotainment seharusnya menayangkan atau memberitakan sebuah berita dengan tujuan yang baik dan dapat membangun peradaban. Kalau boleh saya ibaratkan, Seorang infotainment ibarat pedang, apabila pedang di tangan mujahid ia adalah alat untuk berjihad dan apabila pedang tersebut di tangan perampok, maka pedang itu merupakan alat untuk melakukan tindak kejahatan. Selanjutnya bagaimana para infotainment melaksanakan amanahnya tersebut.
Dan juga bagaimana pemerintah bertanggung jawab mengawasi jalannya infotainment. Namun, bagaimanapun seorang muslim memiliki tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah swt. Dari segala perbuatan yang dilakukan. Wallahu ‘alam bishowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar