workshop Nasional

workshop Nasional
ASDEKSI

Rabu, 28 Juli 2010

Jadilah Pribadi yang Disiplin*

Banyak pekerjaan, pikiran dan hal – hal lain yang harus diselesaikan. Walaupun demikian, kita mengeluh, apalagi menyerah menghadapi semuanya. Jika tiap kali mendapat masalah selalu mengeluh, kita selamanya akan menjadi manusia lemah. Teringat kata – kata pak Sahal tatkala beliau dihadapkan dengan masalah besar dan kiranya sulit diselesaikan, beliau selalu berkata, “ hayo, jajal awak mendak matio!” (ayo lawan saya nanti kamu mati) jika kita terbiasa menghadapi segala masalah didepan mata untuk diselesaikan segera, maka masalah – masalah tersebut akan cepat berlalu, hingga kita mampu menyelesaikan segala masalah dengan dinamika tinggi.
Ibaratnya, musuh jangan dicari, tapi andai musuh datang, jangan kita lari terbirit – birit. Kita harus mencoba kemampuan kita untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Yang paling sulit kita lakukan adalah menata hati dan pikiran. Kalau sesekali kita diserang, dihujat, atau dikritik orang, sebaiknya kita lawan dengan hasil karya nyata pekerjaan. Lawanlah dengan prestasi, peningkatan, dan kemajuan. Itulah hakikat dari filsafat, “ bertahan yang paling baik adalah menyerang.” Kebiasaan kita bekerja dinamis, akan memudahkan kita dalam segala hal. sebaliknya, jika kita tak terbiasa bersikap dinamis, segala pekerjaan kita akan sulit terselesaikan.
Maka hendaknya kita jangan menjadi orang yang bodoh dan pemalas, sehingga menyebabkan diri kita menjadi pengemis. Tapi jangan pula menjadi orang yang pemberani namun pemalas, karena pribadi seperti ini pekerjaannya hanya merampok. Orang yang terbiasa menyelesaikan pekerjaan dalam setiap jejak langkahnya, akan merasakan alangkah mudah hidup ini. Produktivitas akan membuat kita lega. Tentunya dengan tidak mengeluh. Lantas, bagaimana kita menghadapi dinamika kehidupan? Kuncinya adalah banyak mengambil inisiatif, berdoa, bermujahadah dengan membaca shalawat dan berdzikir. Dalam doa, dibutuhkan keyakinan bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa kita. Kalau kita meminta kepadaNya dengan penuh keyakinan, maka Allah akan mendengar doa kita.
Dikisahkan, saat Rasullullah SAW sedang berjalan di alam terbuka, tiba – tiba Nampak luapan api menyala besar. Tiba – tiba jatuh setetes air yang seketika itu memadamkan kobaran api tersebut. Rasulullah bertanya kepada malaikat Jibril, air apakah itu, wahai Jibril?” Jibril menjawab bahwa itu adalah air mata karena takut kepada Allah. Ketahuilah, bahwa manusia itu pada hakikatnya lemah, namun manusia mempunyai kekuatan berkat kuasa Allah yang menguatkan kita. Sebab semua kekuatan datangnya hanya dari Allah, dan kita harus meminta pertolongan kepadaNya. Kekuatan lahir dan batin. Bila kita menghadapi bermacam masalah besar, baik pribadi atau kelompok, lembaga atau organisasi, kita harus menghadapinya bersama – sama. Karena albaroqah ma’al jamaah.
*dikutip dari majalah gontor kolom tausiyah. (Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA)

Tidak ada komentar: