workshop Nasional
ASDEKSI
Kamis, 24 Januari 2013
Anak Penyejuk hati
“ Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
sebuah kebahagian yang tidak terhingga, jika kita di anugerahi anak yang sholeh atau sholehah. Dan merupakan doa setiap orang tua agar keturunannya menjadi keturunan yang bermanfaat bagi kedua orang tuanya, agama, bangsa dan Negara. Anak adalah amanah yang berharga yang harus dijaga dan di rawat penuh dengan kesabaran dan ketaatan kepada Allah SWT.
Alquran menjelaskan bahwa anak merupakan karunia sekaligus amanah dari Allah SWT, sumber kebahagian keluarga, dan merupakan garis keturunan orang tuanya. Anak dapat menjadikan iman kita bertambah (kuat), sebagaimana tergambar dalam kisah Nabi Ibrahim as. Bahkan anak juga dapat menjadi doa untuk kedua orang tuanya, firman Allah SWT, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al-Isra : 24)
Dengan demikian, karuniaNya yang pertama ini, saya berharap dan berserah kepadaNya agar mampu menjadi orang tua yang amanah, dapat mendidiknya menjadi anak yang sholeh atau sholehah yang taat kepada Allah SWT, dan taat kepada Rasulullah. Sebagaimana doa yang terus – menerus terlantun dari hati ini, “"Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
Memperbaiki Diri dan Ekonomi dengan Membaca By Abu Mumtaza
Sebagai negara agraris Indonesia ternyata belum memiliki kemandirian dan kedaulatan dalam hal pemenuhan ekonomi bagi rakyatnya. Hal ini ditunjukkan oleh nilai impor yang masih cukup tinggi, yakni sekitar 7% dari total impor Indonesia. Bahkan, beberapa waktu yang lalu, kita juga sempat dikagetkan dengan kenyataan bahwa ternyata sebagai salah satu negera dengan garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia harus mengimpor garam dari sejumlah negara seperti Cina dan India. Sebuah kenyataan yang tentu miris dan membuat kita mengelus dada.
Dan juga, pengangguran semangkin banyak di sekitar kita, bahkan Negara kita merupakan Negara dengan angka pengangguran tertinggi di Asia Fasifik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011, lebih dari 35 juta, sekitar 17 persen, penduduk Indonesia tergolong miskin atau berpenghasilan kecil. Artinya, negara turut berperan besar dalam membantu masyarakatnya agar menjadi lebih berdaya. Jika persoalan ekonomi Umat Islam tidak diatasi, ekonomi umat pada 30 sampai 50 tahun yang akan datang akan hanya tinggal nama akibat desakan ekonomi global maupun kondisi ekonomi dalam negeri. Solusinya adalah mendorong, membina dan mendayagunakan potensi ekonomi umat secara maksimal. keberpihakan pemerintah terhadap ekonomi umat yang mayoritas masih menengah bawah.
Dan juga para pengemban amanah (pemimpin) masih mengutamakan pembangunan fisik ketimbang meningkatkan kualitas manusia. boleh jadi pembangunan fisik lebih tampak nyata di bandingkan dengan pembangunan manusia. Membangun manusia tidak langsung dilihat hasilnya, padahal pengaruhnya sangat luar biasa untuk kemajuan bangsa. Pemimpin yang tidak paham pentingnya membaca lingkungannya akan mengambil kebijakan yang menyesatkan.
Ditambah dengan masyarakat yang lebih memilih hal – hal pragmatis dan instan untuk memperoleh kesenangan dunia yang sifatnya sesaat, seperti kekuasaan dan banyaknya harta. Sifat malas juga masih menjangkiti masyarakat kita, mereka tidak mau berusaha keras dan bersusah payah untuk mempersiapkan diri dengan sebaik – baiknya. Padahal bumi Indonesia banyak memiliki sumber daya alam yang mampu mengayakan dan membuat kaya bangsa Indonesia.
Bila merujuk pada awal kehadiran Islam, sistem ekonomi dikembangkan dengan prinsip keadilan, kejujuran dan keterbukaan (transparan). Tidak saja untuk kepentingan negara, tetapi ekonomi yang dikembangkan juga dimaksudkan untuk membantu masyarakatnya agar lebih mampu dan berdaya. Disinilah pentingnya membaca situasi yang terjadi saat ini untuk mendapatkan solusi dari masalah yang kini terjadi.
Membaca tidak sekedar memadati otak dengan informasi sehingga hanya menjadi pengetahuan (daya tahu) yang bersifat teoritis. Membaca menuntut adanya aksi dan kemauan. Jika kita memiliki ilmu yang luas akan tetapi tidak disertai dengan pengamalan akan menjadikan semuanya kosong, atau dalam sebuah syair arab menyatakan, “ilmu bila tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah”.
Membaca merupakan wahyu pertama yang Allah SWT turunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat tersebut diawali dengan kata iqra’. Iqra’ terambil dari kata qa – ra – a’ yang memiliki arti membaca, menelaah, menyampaikan, mendalami, dan meneliti. Dan kata iqra’ bisa berarti membaca yang tersurat dan sesuatu yang tersirat. Perintah membaca pada iqra’ tidak disebutkan objeknya. Kaidah bahasa arab mengatakan bahwa suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutkan obyeknya (maf’ul), maka objek yang dimaksud bersifat umum artinya, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut.
Muhammad SAW seorang yang ‘ummi (tidak bisa membaca) di perintah untuk membaca, yaitu membaca lingkungan yang dipenuhi dengan kejahiliahan dan kesyirikan agar dapat kembali kepada penyembahan kepada dzat yang satu yaitu Allah SWT. karena membaca pada hakekatnya langkah esensial menyalurkan fitrah manusia.
Allah SWT telah menyediakan alam semesta untuk manusia agar tugas kehambaan dan kekhalifahan bisa terlaksana dengan baik. Demikian pula sebelum menyuruh membaca, Allah SWT telah melengkapi dengan pendengaran, pengelihatan dan hati. Dalam Al – Qur’an surah As – sajdah ayat 9 Allah SWT menegaskan, “kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
Perintah membaca, meneliti, menelaah dan mengamati adalah usaha mengaktifkan ketiganya, agar berfungsi secara proporsional. Sehingga kekayaan laut, hutan yang luas, tanah yang subur, sumber daya alam yang melimpah, menjadi solusi menanggulangi kemiskinan yang terjadi di negeri tercinta ini. Jika manusia secara fisik berwujud, dan ketiga potensi diatas tidak diaktifkan, maka manusia bagaikan bangkai yang berjalan. Manusia yang enggan mengaktifkan indera pendengaran, penglihatan dan hatinya laksana binatang ternak, bahkan lebih sesat. Bahkan Ibnu Taimiyah mengatakan, “manusia yang pasif laksana mati sebelum meninggal”. Sebab, hatinya tertutup dari hidayah, sehingga lemah dalam merespon perubahan.
Al – Qur’an tidak sekedar memerintahkan membaca, tetapi menegaskan bahwa membaca adalah simbol dari segala yang dilakukan manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan jiwanya ingin menyatakan “bacalah demi Tuhanmu; bergeraklah demi Tuhanmu; bekerjalah demi tuhanmu. Demikian pula jika kita berhenti bergerak atau berhenti melakukan aktivitas, hendaklah berdasarkan Bismi rabbik. Ayat tersebut berarti jadikanlah duduk, berdiri, berbaring, wujud, cara dan tujuanmu hanya demi Allah SWT. Jadi perintah membaca bersifat mendidik, memelihara, mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki makhlukNya.
Jika masyarakat sudah mulai membaca sekelilingnya dan memanfaatkan potensi alam yang sudah disediakan Allah SWT maka, krisis ekonomi tidak pernah dirasakan orang – orang yang beriman. Karena mereka di ciptakan sebagai khalifah di bumi.
Artinya: “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al – An’am : 165)
Langganan:
Postingan (Atom)